Showing posts with label Business n Management. Show all posts
Showing posts with label Business n Management. Show all posts

Wednesday, March 26, 2008

0

Mr. Bill Online Advertising 'Cakes' Hunting Using aQuantive Inc.

Pasar iklan online di dunia maya saat ini bernilai lebih dari 25 miliar dollar AS atau lebih dari 225-an triliun rupiah per tahun. Miliaran dollar dana tersebut mengalir deras ke kantong-kantong raksasa internet seperti Google Inc dan Yahoo Inc. Melihat jumlah aliran dana yang fantastis tersebut, tidak heran jika ‘uncle Bill’ dengan perusahaan raksasanya Microsoft ingin ambil bagian dalam perberburuan kue keuntungan dengan mengakuisisi perusahaan iklan aQuantive Inc.
aQuantive Inc. adalah perusahaan yang tercatat dalam bursa saham New york (NYSE), Amerika Serikat sama halnya dengan Microsoft. Kerjasama kedua perusahaan tersebut mulai menarik perhatian pelaku pasar menjelang akhir Mei 2007 lalu. Bukan semata-mata karena akuisisi tersebut melibatkan perputaran dana sekitar 6 miliar dollar (WSJ, 21/5/07), namun hal ini juga menunjukkan bahwa saat ini perusahaan iklan telah berada pada strata perusahaan papan atas dunia.


aQuantive sendiri didirikan tahun 1997 dan merupakan perusahaan induk dari Avenue A/Razorfish, Atlas Media Console dan Drive PM di Amerika Serikat. Alasan dari akuisisi Microsoft terhadap aQuantive adalah boomingnya online advertising di Amerika Serikat dan zona pasar Eropa, hal ini berimbas pada isi dari media online yang harus mengakomodasi tren perkembangan iklan online di bisnis mereka, dan ekspansi ini berarti pula industri media cetak dan media offline yang selama ini sangat bergantung pada perolehan iklan dalam survival dan kelangsungan bisnis akan terpengaruh seiring perkembangan tren iklan dunia. Microsoft tampaknya mengikuti jejak dari McClathy yang telah membuat kesepakatan bisnis dengan Yahoo group Inc.

Lalu, apakah ini berarti ‘the old media’ harus siap-siap gulung tikar atau paling tidak akan sangat kesulitan untuk survive? Belum tentu, karena sebenarnya ini adalah issue lama yang dulu sempat berhembus saat munculnya ‘the dotcom era’ di Amerika Serikat dan Amerika Utara, saat itu diramalkan bahwa media-media lama akan gulung tikar dalam kurun waktu 10 tahun sejak munculnya dotcom. Ternyata ramalan tersebut tidak sepenuhnya benar, karena ternyata saat ini banyak media-media lama yang masih dapat bertahan, bahkan kalau mau lebih kreatif media-media yang tergolong tua dapat melakukan kemitraan dengan media-media online seiring maraknya tren iklan online. Kemitraan dapat dilakukan karena media online membutuhkan kerjasama baik dalam informasi, isi iklan dan berbagai panduan lainya dari produk-produk isi media cetak selama ini.

Memang untuk dapat survive di percaturan iklan dunia, media-media lama harus melakukan reinvestasi, baik dari infrastruktur, strategic planning kedepan dan SDM, apalagi industri media secara umum hidup dari kreativitas, inovasi, informasi dan kapital ide. Tanpa itu semua, industri media apapun (termasuk media online) akan dijauhi oleh publik, konsumen dan pasar. Kesamaan inilah yang dapat menjadi nyawa untuk melakukan sinergi antara media lama dengan media baru dengan hidup berdampingan sebagai infrastruktur iklan seperti digital text, display, audio dan video.

Potensi Online Advertising

Seperti disinggung diatas salah satu alasan Microsoft terjun kedunia periklanan adalah boomingnya iklan online saat ini, namun apa sebenarnya alasan Microsoft menjatuhkan pilihan terhadap aQuantive Inc. untuk ekspansi bisnisnya? Jawabanya cukup simple, karena aQuantive adalah perusahaan iklan yang cukup establish, Aquantive memiliki infrastruktur yang baik, pelanggan tetap, pilihan servis yang beragam seperti iklan display dan iklan banner. Oleh karena itu, Microsoft tidak perlu repot-repot untuk langsung terjun ke kancah perburuan dollar di pasar online advertising.

Skenario akusisi dengan skema 85% kepemilikan untuk Microsoft memperlihatkan ketatnya persaingan bisnis iklan di dunia maya saat ini, banyak perusahaan media dan terknologi kelas kakap salaing berebut kue keuntungan di industri ini. Sebagai perbandingan, mari kita simak terobosan serupa yang dilakukan Google Inc. yang mengakuisisi DoubleClick Inc. seniali 3.1 miliar dollar AS. DoubleClick selama ini bergerak dibidang penyediaan teknologi bagi penerbit-penerbit situs jaringan internet yang menawarkan iklan dan informasi ke para pecandu internet.

Google saat ini telah menjadi perusahaan penyedia iklan internet kelas wahid, sedangkan DoubleClick berperan membantu melakukan delivery iklan-iklan display seperti banner dan boxes pada situs-situs di internet. Bagi Microsoft, langkah akusisi aQuantive adalah lompatan jauh kedepan untuk ikut bertempur dan mengejar ketertinggalanya dari dua raksasa industri internet Yahoo dan Google. Akusisi ini dilakukan karena untuk dapat menjadi penguasa bisnis online ads, Microsoft tidak dapat berharap banyak dari traffic situs-situs webnya seperti MSN. Teknologi aQuantive memungkinkan Microsoft men-delivery iklan ke situs-situs pihak ketiga. Hal ini dianggap lebih efektif daripada strategi penetrasi iklan Microsoft sebelumnya yang memasarkan iklan lewat video games pada Xbox dan penetrasi iklan melalui situs-situs web Microsoft sendiri. Langkah ini juga akan semakin mebuat ajang pasar iklan online semakin kompetitif.

Apakah Microsoft mampu menahlukkan pasar iklan online dunia yang selama ini dikuasai oleh Google dan Yahoo melalui akuisisi ini? Kita lihat saja nanti perkembanganya. Yang pasti laporan terakhir menyebutkan bahwa pasar iklan online iklan sedang mengalami kenaikan hampir 30% dibelahan Amerika Utara dan seluruh dunia. Hasil analisa Piper Jafray, analis pada Aaron Kesler, memperkirakan pasar iklan online yang bernilai sekitar $20 milliar pada tahun 2007 (Barbara Ortutay, 16/5/2007) akan tumbuh sekitar 17% dalam kurun waktu 5 tahun kedepan.

Lalu, kapan kita bangsa Indonesia ikut mencicipi perputaran dollar di bisnis ini? Sejak beberapa tahun lalu telah banyak putra-putra Indonesia yang telah mencicipi kue iklan online walau dalam skala yang lebih kecil sebagai adsense publisher misalnya. Anda juga dapat turut serta dalam berebut kue bisnis online advertising yang masih sangat potensial untuk dikembangkan. Bagaimana caranya? Stay tune terus di mansur-perspektif (CBO).


Reference:

B&B Magazine edisi Juni 2007.

Tuesday, January 8, 2008

5

Optimalisasi Sektor-Sektor Potensial Kabupaten Jepara

Oleh: Mansur Hidayat

I. Sejarah kabupaten Jepara

Salah satu catatan sejarah tentang Jepara, ditulis Tome Pires dalam bukunya yang sangat terkenal, Suma Oriental yang berisi tentang catatan perjalanannya di pantai utara pulau Jawa antara bulan November 1513 sampai Januari 1515. Dalam catatan Tome Pires - yang banyak digunakan oleh para ahli untuk menulis buku-buku sejarah - disebutkan pada tahun 1470 Jepara merupakan kota pantai yang baru dihuni oleh 90 - 100 orang serta dipimpin oleh Aryo Timur. Dengan ketekunan, keuletan, ketabahan dan kegigihannya, Aryo timur berhasil mengembangkan kota pantai kecil yang dikelilingi benteng berupa kayu dan bambu ini,menjadi sebuah bandar yang cukup besar. bahkan ia juga berhasil memperluas kekuasaannya sampai ke Bengkulu dan Tanjung Pura, sekalipun Jepara masih berada di bawah kekuasaan Demak.

II. Kabupaten Jepara

Secara geografis kabupaten Jepara terletak pada : 3° 23? 20? sampai 4° 9? 35? Bujur Timur, 5° 43? 30? sampai 6° 47? 44? Lintang Barat. Dengan batasan sebelah barat : Laut Jawa, sebelah utara : Laut Jawa, sebelah timur : Kabupaten Kudus & Pati, dan sebelah selatan : Kabupaten Demak.

Selain meraih piala Adipura, baru-baru ini kabupaten Jepara sebagai kota kelahiran pahlawan nasional emansipasi wanita Ibu Kartini, berhasil meraih prestasi sebagai Juara I Pro Investasi 2006, menyusul prestasi yang pernah diraih pada tahun 2005 sebagai Juara II. Prestasi ini merupakan suatu bukti kerja keras semua pihak sehingga Investasi di Kabupaten Jepara berjalan dengan baik. Pemilihan Kabupetan/ Kota Pro-Investasi 2006 diakhiri dengan diskusi panel dari Kabupaten/Kota yang mendapatkan nominasi sebagai 5 besar di Gedung Java Design Center (JDC) Jl. Imam Bonjol Semarang setelah melalui penilaian dan peninjauan ke lapangan beberapa waktu sebelumnya. Para panelis terdiri atas Wakil Gubernur Ali Mufiz, Ketua Kadin Jateng Solichedi, Agung Suhandiono dari International Finance Corporation (IFC), Direktur Promosi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Erwin Siregar, Ir Frieda Rustani dari Asia Foundation dan Prof. Vincent Didik dari Unika Semarang. Jepara meraih juara I dengan nilai 1596 unggul 8 poin atas Kabupaten Kudus di peringkat II, disusul Kodya Surakarta di posisi ke 3.


III. Potensi Kabupaten Jepara

Sebagai sebuah daerah dengan tingkat kemajuan di bidang industri yang cukup membanggakan pemerintah daerah masih kurang memperhatikan sektor potensial yang sebenarnya sangat berkaitan erat dengan sektor industri dan dapat bersinergi satu dengan lainya, yaitu sektor pariwisata. Konektivitas kedua sektor tersebut terbentuk dalam sebuah simbiosis mutualisme dimana idealnya sektor pariwisata selalu mengikuti peningkatan pertumbuhan sektor industri, karena banyak sekali pasar ceruk (niche market) yang dapat dikembangkan sebagai sebuah industri jasa pariwisata bagi para pelaku bisnis yang notabene adalah kaum “berduit” dimana kebanyakan dari mereka adalah manusia-manusia konsumtif yang akan rela mengeluarkan koceknya demi sebuah service yang memuaskan.

Kalau kita mau secara jujur mengakui, kondisi sektor pariwisata di Jepara berada pada kondisi kurang kreatif, lambat berkembang dalam mengikuti laju perkembangan sektor industri khususnya industri furniture. Hal itu tervisualisasi lewat minimnya pusat perbelanjaan modern sekelas mall, hotel berbintang, café dan pengelolaan obyek-obyek wisata potensial secara lebih profesional dan busines oriented. Sehingga tidak heran jika saat ini Semarang berfungsi sebagai main destination bagi para investor dan para pelaku bisnis untuk membelanjakan uang mereka dalam pusat-pusat perbelanjaan dan tempat hiburan, setelah melakukan deal-deal bisnis di Jepara. Hal itu belum ditambah dengan kebiasaan masyarakat Jepara sendiri yang lebih memilih berekreasi dan berbelanja di akhir pekan ke Semarang yang lebih menawarkan beragam variasi pusat perbelanjaan dan hiburan.

Bisa dibayangkan berapa pendapatan daerah yang akan didapat seandainya Jepara mampu memberikan jasa pelayanan kebutuhan rekreasi, belanja dan hiburan bagi para pelaku bisnis baik domestik maupun manca negara. Hal itu tidaklah berlebihan karena pada tahun 2002 saja jumlah negara tujuan ekspor kab. Jepara adalah 88 negara. Dengan strategi marketing yang tepat, informasi yang cukup dan profesionalisme dalam mengembangkan sektor pariwisata bukan tidak mungkin Jepara akan mampu menjadi Bali-nya Jawa Tengah.

Memang tidak mudah dan memerlukan waktu yang lama untuk dapat berperan menjadi sebuah daerah kontributor devisa negara yang sangat besar seperti Bali, namun kalau tidak sekarang kapan lagi kita mulai membangun Jepara sebagai daerah tujuan Investasi dan Pariwisata andalan di Jawa Tengah. Saya merasa hal ini tidaklah berlebihan karena kab. Jepara mempunyai obyek wisata potensial yang menunggu tangan-tangan ahli dan profesional untuk dikembangkan semacam pantai Bandengan, kepulauan karimunjawa, Pantai Bondo, Desa Tempur, Pantai kartini, Pulau Panjang, Benteng Portugis dan masih banyak lagi. Dengan di kelolanya sektor pariwisata dengan lebih profesional diharapkan sektor ini akan mampu memberikan banyak sekali peluang usaha dan lapangan pekerjaan bagi penduduk Jepara yang jumlahnya semakin meningkat terutama usia produktif. Jika hal ini tidak di imbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang mencukupi, dikhawatirkan jumlah pengangguran akan meningkat. Karena kita tidak bisa selamanya bergantung pada sektor industri mebel yang sering mengalami pasang surut. Pada tahun 2005 saja terjadi penurunan lapangan pekerjaan dan investasi yang cukup besar. Data menunjukkan masyarakat yang bekerja di bidang mebel menurun menjadi 185.884 orang dari semula 227.349 orang pada tahun 2004.

Kondisi semacam ini tidak akan menjadi sebuah masalah besar jika tersedia banyak variasi lapangan kerja yang potensial di kab. Jepara. Justru pada kondisi semacam inilah terjadi simbiosis mutualisme dimana sektor pariwisata yang maju akan memberikan peluang bagi makin tumbuhnya investasi di bidang industri maupun bidang-bidang lainya. Begitupun sebaliknya.

Lalu dari mana langkah konkrit yang harus dilaksanakan pemerintah daerah untuk mewujudkan visi tersebut? Sebelum lebih jauh mengenai tehnik pembangunan sektor pariwisata Jepara. Ada sebuah ilustrasi (dikutip dari buku Change karangan Rhenald Kasali) yang bercerita tentang perjuangan menggapai sebuah mimpi dengan semangat perubahan.


Belajar Dari Singapura

Tahun 1959, People’s Action Party (PAP) pimpinan Lee Kuan Yew berhasil memenangkan pemilu di Singapura dengan menguasai 41 dari 53 kursi di parlemen. Saat Lee diangkat menjadi perdana menteri, kas negara dalam keadaan kosong, kondisi negara carut-marut, penerapan hukum buruk, konflik antar etnis, masyarakat jorok dengan sampah dimana-mana dan pengangguran mencapai 40%. Sedangkan sumber daya alam sangatlah minim, luas Singapura hanya 400 km dengan komoditi andalan cuma padi. Kalaupun seandainya semua lapangan sepak bola dikonversi menjadi sawah, ia hanya mampu menyajikan beras untuk 40.000 orang. Untuk membangun turisme-pun susah karena masyarakatnya jorok dan tidak mempunyai pantai yang bagus.

Lee hanya mempunyai sebuah impian dan beberapa orang pemikir, dan didukung satu modal utama, yaitu lokasi singapura yang strategis. Dengan tekad bulat Lee harus mengubah singapura. Ia memimpikan sebuah negara kecil yang bersih, disiplin, memegang kuat tradisi penghormatan terhadap orang tua, dan tentu saja kaya. Lalu harus dimulai dari mana? Lee berfikir keras sambil diliputi kekhawatiran kalau Singapura tidak segera berubah dan ia tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi penduduknya, Singapura akan menjadi sasaran penyebaran Komunis. Maka dengan segera ia menggulirkan pekerjaan tersebut. Ia menugaskan Dr. Goh Keng Swee untuk merancang pembangunan yang agresif. Goh segera bertindak, Industrialisasi adalah pilihan utama, hanya masalahnya Singapura tidak punya bahan baku, SDM yang kurang berkualitas, tidak ada ketrampilan Industri, dan yang paling parah, tidak punya pasar yang cukup besar. Itulah sebabnya mereka menjalin pasar bersama (common market) dengan Malaysia. Namun itu saja belum cukup.

Untuk memajukan perekonomian, pemerintah Lee meminta bantuan PBB agar mengirim ahli ekonominya. Pada tahun 1960 PBB mengirim misi survei industrial yang dipimpin oleh Dr. Albert Winsemius, yang dibantu oleh seorang keturunan China, I.F.Tang. Dengan bantuan keduanya, Lee merumuskan strategi pembangunan ekonomi global yang berorientasi pada keunggulan daya saing dan produktivitas lewat pemerintah yang bersih, masyarakat yang disiplin dan industrialisasi yang ditangani oleh tenaga-tenaga profesional. Pemerintahan Lee tidak anti asing maka setiap bangsa boleh ikut mengembangkan Singapura asal betul-betul profesional dan menguntungkan negara. Ada dua badan yang menjadi andalan Lee saat itu, yaitu HDB (Housing Development Board) dan EDB (Economic Development Board).

Pada saat perubahan mulai dijalankan, tentu saja banyak pihak yang tidak siap. Bahkan Lee sering disebut sebagai salah satu diktator Asia yang anti demokrasi, HAM dan kebebasan berserikat. Ia begitu tegas menegakkan hukum dan menjatuhkan denda yang sangat besar bagi orang yang melanggar ketertiban dan tidak menjaga kebersihan kota.

Perubahan yang digulirkan Lee tentu tidak akan berhasil kalau ia hanya berfokus pada wacana politik dan nilai-nilai tertentu saja. Berdasar pada nilai-nilai seperti disiplin, keramahan dalam melayani konsumen, profesionalisme, kreativitas dll, Lee memberikan kebebasan pada para pemikir sekaligus pelaku spt Dr. Goh, Dr. Albert dan I.F.Tang dll untuk bergerak bebas mengeksekusi ide-ide kreatif mereka. Merekalah yang berperan sangat penting dalam mempercepat Industrialisasi di Singapura. Contohnya saat mereka mengangkat kepala perwakilan EDB di New York, mereka lebih memilih seorang top salesman dengan pengalaman bisnis, street smart, sabar, jujur dan pekerja keras ketimbang seorang birokrat, akademisi ataupun politisi yang berkantor diruang tertutup. Pilihan jatuh kepada Chan Chin Bok, seorang mantan salesman yang juga kolumnis bisnis. Berkat bantuan Chan, Singapura menjalin kerjasama dengan produsen otomotif di Detroit, Ford misalnya memilih Singapura sebagai lokasi Assembly Part-nya di Asia setelah Singapura menjalin kerja sama Common Market dengan Malaysia. Hal menarik yang terjadi disini adalah kisah hubungan Malaysia-Singapura yang memperebutkan lokasi, lebih merupakan deal business ketimbang deal-deal politik.

Tentu saja kisah diatas berlaku pada masa-masa awal perubahan. Pada tahap awal negara membutuhkan dua tangan sekaligus: yang satu tangan pemikir (Thinker) dan yang satu tangan pelaku (Doer). Namun sekarang keduanya membutuhkan kecerdasan intelektual dan hal itu dapat dicapai dengan penyediaan pendidikan yang baik seiring berjalanya waktu.

Di masa pemerintahanya Lee sangat konsisten menata pemerintahanya. Dalam setiap tahap ia selalu merumuskan langkah-langkah konkret yang harus diambil setiap jajaran dan departemen dibawahnya. Tak disangka, Singapura yang tak punya apa-apa sekarang malah menjadi salah satu negara terkaya didunia. Pada saat Lee melepaskan jabatanya (1990), GDP per kapita Singapura telah menjadi US$ 14.000 dan terus tumbuh, pada tahun 2004 saja, GDP per kapita telah mencapai US$ 22.000.

Itu adalah ilustrasi mengenai perjuangan Lee Kuan Yew dalam membangun Singapura, tentu saja mengkopi seluruh skenario perubahan yang dilakukan oleh Lee bukanlah cara yang tepat dalam membangun Jepara, karena Jepara berbeda dengan Singapura, baik dari kondisi social culture masyarakat, letak geografisnya dll. Namun banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik dari cerita diatas untuk membangun industri pariwisata Jepara, diantaranya:

  1. Komitmen dari pemimpin untuk melakukan perubahan menuju kondisi yang lebih baik, dengan integritas yang tinggi dan semangat clean goverment. Seperti halnya Lee pemkab harus mempunyai visi yang dituangkan dalam sebuah master plan dan konsep perencanaan pembangunan sektor pariwisata. Berbeda dengan Singapura yang dalam awal perubahan “tidak mempunyai apa-apa” Jepara justru mempunyai banyak resources yang menunggu untuk di kelola secara profesional. Banyaknya prestasi yang diraih Jepara hendaknya tidak membuat pemerintah kabipaten cepat berpuas diri, namun selalu berusaha melakukan inovasi dan terobosan-terobosan karena continuous improvement sangat dibutuhkan untuk meghasilkan kebijakan-kebijakan yang responsif dan sesuai dengan tantangan global.
  2. Sense of Business and Business Oriented, adalah sikap yang menjelma menjadi sebuah mind set (pola pikir) untuk selalu aktif dan kreatif dalam mencari ide, peluang dan celah-celah bisnis yang dapat dikelola sebagai sesuatu hal yang mempunyai nilai jual. Selain sense atau indera bisnis yang cukup tajam, dalam memajukan suatu usaha, tentu saja diperlukan langkah-langkah yang berorientasi pada bisnis. Artinya bisnis dijalankan dengan mengutamakan peningkatan kualitas service kepada konsumen, meliputi sifat ramah, bersahabat, produktif dan disiplin. Sebuah bisnis dijalankan adalah untuk meraih keuntungan yang kemudian dimanfaatkan bagi kesejahteraan bersama dan expansi usaha. Jika mind set ini dijadikan pedoman utama dalam mengelola sebuah usaha bisnis maka akan terhindar dari pemborosan penggunaan fasilitas, ineficiency dan selalu berupaya menempatkan orang-orang kompeten dan profesional yang ahli pada bidangnya, sebagai mana contoh pemilihan ketua EDP Singapura.
  3. Expert Advisor, dalam memulai sebuah perubahan besar, informasi dan pengetahuan yang selalu ter-update sangat diperlukan. Oleh karena itu dibutuhkan ahli-ahli yang akan mampu memberikan saran, nasihat, stategi marketing, dan konsep desain tata pengelolaan obyek wisata. Informasi ini dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat master plan jenis usaha-usaha dibidang pariwisata apa saja yang perlu dikembangkan dengan memperhatikan tren terkini apa yang diinginkan oleh pasar. Kalau Singapura belajar bisnis dari ekonom PBB, saya menyarankan pemda kab. Jepara bekerjasama dengan pemda provinsi Bali untuk bersama-sama mengembangkan industri pariwisata Jepara. Koordinasi dengan pemerintah pusat juga diperlukan dalam pembangunan infrastruktur penunjang industri pariwisata.


IV. Langkah Konkrit Optimalisasi Pengelolaan Obyek-Obyek Wisata Potensial

Lalu darimana kita harus memulai perubahan ini? Memangun sebuah industri pariwisata tidak berbeda dengan pembangunan industri-industri lainya. Untuk mencapai keberhasilan tidak cukup hanya dengan menyajikan produk-produk bagus dan lokasi yang strategis. Namun, membutuhkan juga strategi pemasaran yang tepat, kebijakan politik yang mendukung dan kondusif serta sense of belonging dari stake holders termasuk seluruh warga untuk berkomitmen menjaga, melestarikan dan mengelola dengan baik.

Langkah terbaik untuk membangun industri pariwisata Jepara adalah melahirkan icon obyek wisata yang nantinya akan menjadi sebuah identitas bagi indusrtri pariwisata kita. Icon sangat dibutuhkan sebagai produk andalan dalam program-program pemasaran dan kampanye pariwisata. Pantai Kuta misalnya telah menjadi sebuah icon kebanggaan masyarakat Bali. Setelah sebuah icon kebanggaan lahir maka akan menyusul kemudian obyek-obyek wisata lainya sebagai pilihan tujuan wisata yang saling melengkapi, seperti dreamland beach, sanur, jimbaran, tanah lot dll.

Setelah menentukan obyek wisata mana sebagai sebuah icon yang akan menjadi prioritas pertama pembangunan, segmentasi juga diperlukan dalam pembangunan industri pariwisata secara keseluruhan. Segmentasi disini bukan berarti pengkotak-kotakan berbagai lapisan masyarakat dalam hal mengakses obyek-obyek wisata. Namun lebih kepada bagaimana menyediakan berbagai macam fasilitas yang memenuhi standar kebutuhan tiap-tiap segmen target market. Misalnya target market utama adalah wisman dan domestik, maka idealnya sebuah obyek wisata menyediakan berbagai macam fasilitas yang akan mampu mengakomodasi kedua lapisan segmen wisatawan tersebut. Kualitas pelayanan dan fasilitas yang disediakan hendaknya selalu mengimbangi kemampuan financial dari target market yang dibidik.

Setelah segmentasi dan targeting di rencanakan secara matang sebaiknya dilakukan diferensiasi service utama yang ditawarkan dari masing-masing obyek wisata. Hal ini dibutuhkan dalam strategi pemasaran yang akan membantu memudahkan wisatawan menentukan prioritas tujuan wisata berdasarkan kepada kebutuhan apa saja yang mereka ingin dapatkan dari lokasi-lokasi yang ditawarkan. Misalnya Pantai Kartini mempunyai service utama yang ditawarkan adalah pusat pengembang biakan biota laut melalui kura-kura resort sebagai senjata utama dalam berpromosi, sedangkan service lain yang ditawarkan adalah arena untuk konser, taman bermain yang sejuk, pelabuhan, pusat makanan dll. Contoh kedua adalah pantai bandengan sebagai obyek wisata yang menawarkan pantai berpasir putih dan bersih yang dapat digunakan untuk voly pantai, surving dan berenang dilaut. Selain itu juga menawarkan hiburan modern seperti kafe dan pusat perbelanjaan, serta pusat cinderamata komoditi utama dan khas jepara. Untuk lebih jelasnya berikut adalah contoh penggambaran konsep pembangunan pada obyek wisata pantai Bandengan secara lebih spesifik.


V. Eksplorasi Pantai Bandengan (Tirta Samudra)

Ditilik dari letak geografis yang hanya berjarak 7 km sebelah utara pusat kota, dengan jarak tempuh kendaraan darat ± 30 menit. Pantai ini menawarkan banyak sekali potensi yang menunggu untuk digali. Kondisi pantai yang dianugerahi pasir putih bersih dengan air yang jernih menjadikanya tempat yang menyenangkan untuk berenang dilaut. Tidak hanya itu area kosong yang mengelilingi pantaipun cukup luas dan potensial untuk diexplorasi. Ditambah dengan masyarakat sekitar yang banyak berprofesi sebagai perajin ukir-ukiran bernilai seni tinggi memposisikan pantai ini sebagai obyek wisata andalan yang dapat dijadikan sebagai icon daerah layaknya pantai Kuta di Denpasar.

Kiranya tidak berlebihan, jika melihat potensi sumber daya yang dimiliki pantai Bandengan. Lalu konsep apa yang selayaknya kita terapkan pada program pembangunan pantai Bandengan? Dalam mimpi saya pantai bandengan dapat menjadi pantai yang selain berfungsi sebagai obyek wisata juga berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi layaknya Kuta. Untuk merealisasikanya kita dapat mengkopi konsep tata kota yang diterapkan pada pantai Kuta. Dalam istilah ekonomi hal ini dikenal sebagai benchmarking atau penerapan ide-ide bisnis yang sama dengan sebuah jenis bisnis yang telah sukses, bukan sebuah plagiasi.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah segmentasi dan penentuan target market, dimana pantai dengan resources seperti ini layak diposisikan sebagai tujuan wisata bagi wisatawan mancanegara dan domestik. Konsekuensi dari hal ini adalah penyediaan fasilitas-fasilitas penunjang yang sesuai dengan selera dari kedua jenis wisatawan tersebut. Seperti halnya Kuta di Bandengan potensial sekali dibangun Hotel, restoran, café, pusat perbelanjaan maupun fasilitas-fasilitas hiburan lain di sekitar lokasi bibir pantai. Tentu saja kita tidak harus membangun hotel sekaliber Hardrock Hotel Bali atau pusat perbelanjaan sebesar Kuta Square Denpasar, hal itu dapat dilaksanakan seiring berjalanya waktu dimana Bandengan telah menjadi tujuan wisata yang sangat menguntungkan.

Sedangkan di belakang hotel-hotel, tepatnya dilokasi tengah dari area kosong di sekitar pantai dibangun sebuah distrik yang menjadi pusat penjualan cinderamata ukir-ukiran, monel, textile (tenun troso, sutra), keramik, kuningan, kerajinan rotan, anyaman bambu dll. Taman bermain juga cocok dibangun ditengah-tengah area yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi bersantai keluarga yang biasanya dilakukan masyarakat jepara sebagai tempat makan lesehan pada hari-hari tertentu bersama keluarga. Tentu saja pohon-pohon seperti akasia dan palem dibutuhkan untuk menyejukkan area taman dan suasana pantai secara keseluruhan.

Konsep seperti ini lebih cocok dari pada konsep yang dulu pernah digulirkan, dimana akan dibangun sebuah lapangan golf dan hotel berbintang di bandengan. Golf adalah olahraga exclusive yang hanya mampu dinikmati sebagian kalangan. Sehingga kurang membari dampak ekonomi secara signifikan bagi masyarakat sekitar. Kita harus belajar dari kabupaten Tuban dimana pemda banyak melaksanakan proyek-proyek mercusuar yang tidak berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat, akibatnya timbul kecemburuan sosial yang sangat dalam sehingga masyarakat mudah diprovokasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan anarkis dan pengrusakan.

Berbeda dengan konsep lapangan golf yang pernah bergulir, konsep diatas mempunyai banyak kelebihan, terdapat community development disini. Pembangunan infrastruktur dan fasilitas-fasilitas penunjang akan mampu menyerap banyak tenaga kerja, belum lagi ditambah kegiatan ekonomi di distrik cinderamata dimana masyarakat dapat membuka usaha seperti kios-kios cindera mata, showroom, art galery dan berbagai jenis usaha lainya. Bisa dibayangkan perputaran roda ekonomi yang semakin akan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. Komoditi dari sektor industri yang selama ini hanya mengandalkan tempat pemasaran di daerah lain seperti tenun Troso yang dipasarkan lewat Bali akan terbantu dengan dibangunnya sentra-sentra bisnis semacam ini. Masyarakat sekitar pantai pun dapat memasarkan barang kerajinan ukir mereka seperti relief, patung dll di distrik cinderamata.

Dengan konsep open beach seperti ini, penarikan tiket bagi setiap penunjung yang memasuki area pantai sangat tidak efektif. Mengapa? Karena fungsi pantai yang semula hanya sebagai obyek tujuan wisata telah bertambah menjadi pusat bisnis, dan logikanya akan banyak sekali manusia yang melakukan mobilitasnya di area bisnis tersebut. Pendapatan daerah yang dulu hanya berasal dari pembayaran tiket akan meningkat secara signifikan dari pungutan pajak hotel, restoran, café dll, serta uang sewa tempat usaha dari masyarakat. Sumber pendapatan tersebut ditambah dengan pungutan parkir kendaraan bermotor. Seperti halnya Kuta, kendaraan bermotor pribadi (kecuali umum hanya untuk Taxi nantinya kalau ada) dibiarkan parkir bebas diarea yang disediakan di seluruh pinggiran pantai. Sedangkan kendaraan umum, seperti bus pariwisata, angkot dll disediakan area parkir tersendiri. Misalnya area kosong sebelum pintu gerbang dapat dijadikan area parkir. Hal ini perlu untuk mengantisipasi kesemrawutan lalu lintas yang potensial ditimbulkan oleh semakin banyaknya jenis angkutan umum seiring kemajuan pantai Bandengan.

Dengan pengelolaan yang profesional ditangan atau dibawah bimbingan para ahli, bukan tidak mungkin kurang dari 10 tahun kedepan Industri pariwisata Jepara akan menjadi salah satu yang terbaik di Jawa Tengah. Karena Jepara tidak hanya mempunyai Bandengan, tetapi ada P.Kartini yang dapat dijadikan taman pantai, rekreasi kura-kura (dengan catatan proyek ini betul-betul diselesaikan dan dikelola secara profesional) dll. Pantai Bondo yang sangat indah sebagai pusat seafood seperti halnya Jimbaran, dan yang paling hebat adalah Karimunjawa.


VI. Potensi Sektor Industri Kabupaten Jepara

Selain sektor pariwisata, profesionalisme pengelolaan sektor industri yang harusnya tidak hanya terkonsentrasi pada Industri furniture tetapi ada juga industri textile, rotan, kerajinan bambu, gerabah dll yang layak mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat. Semua itu adalah potensi yang harus dikembangkan secara profesional sebelum semuanya hilang karena kurangnya edukasi managerial yang baik terhadap perkembangan UKM tersebut. Kalau kita mau belajar dari Amerika, salah satu faktor penunjang keberhasilan hampir di semua sektor baik industri, pertanian dan agribisnis, peternakan, sampai pariwisata adalah pengelolaan organisasi yang baik. Semua sektor mempunyai organisasi naungan yang akan selalu menyalurkan informasi-informasi penting serta membantu mensosialisasikan policy dari pemerintah.

Dalam Sektor industri furniture kita misalnya kita dapat mengoptimalkan peran asosiasi pengusaha mebel jepara baik dalam penentuan standar mutu, pelatihan-pelatihan managerial bagi pengusaha, kode etik usaha mebel, dll. Pemerintah juga dapat campur tangan dalam pengaturan harga minimal komoditi agar terhindar dari persaingan harga yang tidak sehat, yang justru berdampak negatif bagi industri mebel kita dimasa depan. Kalau masalah utamanya adalah SDM, sebetulnya banyak sekali lembaga-lembaga keuangan yang akan bersedia membantu dan berkerjasama dengan pemkab dalam rangka pendidikan managerial bagi UKM-UKM. Bank NISP, BRI misalnya terkenal dengan concern mereka pada industri-industri kecil dan menengah. Dan masih banyak lagi Bank dan lembaga lain yang perduli terhadap pengembangan UKM.

Kalau saja seandainya organisasi-organisasi dilahirkan sebagai wadah dari bermacam potensi daerah seperti sektor industri, pertanian, perdagangan, pariwisata, persijab yang memiliki aset jetman dll. Niscaya akan mudah bagi pemkab untuk menetukan arah kebijakan bagi kemajuan berbagai sektor andalan di jepara. Informasi dan edukasi terkini akan lebih mudah terdistribusi melalui sistem dan mekanisme yang jelas kepada tiap-tiap elemen masyarakat.

Idealnya pemkab Jepara membangun sebuah pusat perdagangan yang tidak hanya mengakomodasi salah satu sektor Industri. Pusat dagang tersebut dapat direalisasikan lewat pembangunan Jepara Trade Center (JTC) misalnya, jadi didalam JTC tidak hanya terdapat industri mebel, tetapi juga industri textile, rotan, monel, kuningan, kerajinan bambu, gerabah dll. Skenario pelaksanaanya spt ini: JTC mengakomodir semua sektor industri di kab. Jepara dan membagi sektor-sektor area berdasarkan jenis industrinya.

Misalnya pada lantai dasar adalah sektor industri mebel, dalam sektor ini terdapat Showroom mini milik PT. Kalingga Jati. Di showroom tersebut pihak Kalingga dapat mendisplay barang-barang jualanya serta melakukan fungsi trading. Jika ternyata transaksi yang terjadi membutuhkan deal-deal tertentu maka dapat dilakukan di pusat Kalingga Jati.

Intinya disini JTC berfungsi sebagai pusat informasi dan promosi komoditi-komoditi andalan kab. Jepara. Dengan adanya JTC akan memudahkan pawa investor dan juga wisatawan untuk menentukan tempat tujuan pertama yang dikunjungi dalam upaya pencarian peluang bisnis di Jepara. Idealnya didalam JTC terdapat informasi lengkap mengenai alamat para pelaku bisnis di semua sektor industri, sehingga memudahkan para pengunjung untuk mendapatkan informasi mengenai peluang bisnis apa saja yang tersedia di kab. Jepara.

Selanjutnya dalam JTC dapat juga dipergunakan sebagai kantor pusat asosiasi-asosiasi pengusaha di semua sektor industri, dengan JTC pula pemkab akan lebih mudah mengontrol tingkat persaingan harga dan mensosialisasikan kebijakan-kebijakan yang dibuat.

Pada akhirnya, keseriusan, komitmen, perencanaan secara matang melalui konsep-konsep realistis dalam lindungan payung hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah bagi berbagai sektor potensial kabupaten Jepara akan sangat menentukan tingkan kemajuan dan percepatan pembangunan di kabupaten Jepara. Sasaran yang dituju tentusaja adalah kesejahteraan masyarakat Jepara. Tentu saja cita-cita tersebut memerlukan kerja keras dan kerjasama yang saling bersinergi antara pemerintah daerah dan warga Jepara sendiri.

Tuesday, January 1, 2008

0

Implementasi Corporate Social Responsibility Melalui e-Learning Berbasis 3G


(Oleh : Mansur Hidayat, S.Kom)

Corporate Social Responsibility atau lebih terkenal dengan CSR adalah istilah populer yang digunakan untuk mewakili sebuah program bakti sosial sebagai bentuk kontribusi positif dari perusahaan kepada masyarakat. Ada beberapa contoh program CSR yang telah dilakukan beberapa perusahaan ternama di Indonesia belakangan ini. Diantaranya PT Indosat berkerjasama dengan UNDP meluncurkan voucher Mentari Limited Editions bertemakan Voucher Mentari Edisi Anak Indonesia, sebagai bentuk dukungan indosat dalam program Millennium Development Goals (MDGs) yang salah satunya berkonsentrasi pada pembangunan bidang pendidikan. Selain itu PT Indosat juga menyelenggarakan Program Peningkatan Kompetensi Guru IPA dan Matematika bekerja sama dengan Universitas Andalas, Universitas Bung Hatta dan Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat. Kemudian perusahaan lain pelaksana CSR adalah PT. Sampoerna yang membagikan banyak beasiswa pendidikan melalui Sampoerna Foundations, selain itu juga ada renovasi sekolah yang dilakukan oleh BNI dan masih banyak lagi.

Selain PT Indosat, operator telekomunikasi lainya yang identik dengan teknologi tinggi, kreatifitas dan inovasi serta ketersediaan rupiah yang tidak sedikit juga tidak ketinggalan memeriahkan ajang pengabdian kepada masyarakat lewat CSR. Diantaranya PT Telkom yang secara aktif melakukan usaha pemerataan informasi dan penetrasi jaringan internet di sekolah-sekolah yang mempunyai kondisi geografis dan infrastruktur tertinggal. Kerjasama Mobile-8 dengan berbagai institusi pendidikan di Tanah Air, salah satunya adalah akses gratis ke portal dikmenjur bagi seluruh sekolah menengah kejuruan di Pulau Jawa dan akses portal gratis bagi mahasiswa Universitas Jember dalam menunjang program belajar dan mengajar di lingkungan universitas tersebut.

Berbeda dengan operator lainya yang lebih terfokus pada sektor-sektor tertentu, Exelcomindo melakukan program tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat secara lebih general dengan target seluruh lapisan masyarakat dari berbagai macam latar belakang. Misalnya seminar Indonesia berprestasi yang dilaksanakan Xlcare sebagai wujud dukungan terhadap dunia pendidikan di Indonesia dan peningkatan kualitas anak-anak untuk masa depan yang lebih baik. Senimar ini menyuguhkan pengalaman inspiratif dari tim TOFI yang telah disponsori oleh XL dibawah asuhan Prof DR Yohanes Surya Phd, yang berhasil mengharumkan nama Indonesia ditengah bencana yang banyak terjadi, Luar biasa lagi adalah hasil olimpiade Fisika Internasional 37 di Singapura pada Juli 2006. Indonesia merebut juara dunia dengan meraih gelar The Absolute Winner dan 4 emas serta 1 perak. Indonesia menyisihkan lebih dari 83 negara, suatu olimpiade fisika terbesar di dunia. Selain itu hadir juga Prof. Ratna Megawangi Phd, sebagai pendiri Indonesia Heritage Foundation yaitu membangun TK Alternatif Semai Benih Bangsa Berkarakter untuk anak tidak mampu. Kegiatan sosial lain yang telah dilaksanakan XL adalah Bali Re-Found, Pulihkan Jogja Kita dan masih banyak lagi.

Petanyaanya sekarang, apakah Corporate Social Responsibility yang telah dilakukan khususnya oleh Telco Industry telah mencapai titik optimal atau hanya sekedar titik awal dari suatu kontribusi besar bagi kemajuan bangsa Indonesia? Pertanyaan ini hendaknya menjadi pekerjaan rumah bagi para pelaku industri ini. Hanya komitmen dan niat yang kuat yang akan melahirkan kebijakan-kebijakan internal perusahaan yang diharapkan mampu memberi kontribusi positif bagi kemajuan bangsa. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk memberi manfaat lebih bagi masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh pelaku industri telekomunikasi. Kiranya tidak berlebihan jika sektor industri ini di tuntut untuk berbuat lebih dan selalu proaktif dalam meningkatkan volume dan variasi program CSR. Karena operator telekomunikasi di Indonesia mempunyai sumber daya melimpah dengan total pendapatan mencapai sekitar Rp 50 triliun per tahun, yang berasal dari berbagai layanan seperti jasa internet, fixed phone, mobile phone, multimedia dan lain-lain. Salah satu real actions yang dapat dilaksanakan operator telekomunikasi dalam waktu dekat ini dalam mengimplementasikan CSR adalah dengan memanfaatkan 3G sebagai sebuah teknologi potensial yang dapat di explorasi lebih dalam demi kemajuan bangsa oleh operator-operator pemegang lisensi.

Hadirnya 3G di Indonesia.

Hadirnya teknologi selular generasi ketiga (3G) third generation banyak menyedot perhatian sebagian besar masyarakat. Banyak yang menantikan, namun banyak juga yang masa bodoh. Mereka yang antusias menantikan kehadiran teknologi ini meyakini 3G mampu menyembuhkan sempitnya pembuluh data yang diusung oleh teknologi generasi sebelumnya. Tidak salah memang jika sebagian masyarakat penggila teknologi berekspektasi tinggi terhadap 3G, karena teknologi ini memungkinkan penggunanya untuk menikmati pita lebar yang diklaim memiliki kecepatan jauh lebih tinggi dibanding generasi 2G dan 2.5G. Generasi ke-2 atau 2G yang hanya mampu menyajikan kecepatan 9.6 Kbps menggunakan WAP (Wireless Applications Protocol) dan 115 Kbps disediakan oleh GPRS (General Packet Radio Service) yang berasal dari generasi 2.5G. Kecepatan data yang lebih tinggi dari kedua teknologi diatas, yaitu sebesar 384 Kbps sempat dihadirkan oleh EDGE (Enhanced Data Rate GSM Evolutions) sebagai midle generations yang menjembatani evolusi generasi 2G menuju 3G. Adapun 3G sendiri secara teoritis mampu memanjakan penggunanya dengan menyajikan kecepatan transfer data hingga lebih dari 2 Mbps, dengan kecepatan sebesar itu memungkinkan pelanggan seluler untuk menikmati berbagai layanan transfer data berkecepatan tinggi seperti video calling, teleconfrence, video streaming, mobile TV dan tentu saja akses internet berkecepatan tinggi untuk keperluan download dan browsing.

Pada Februari gelaran tender pun digelar oleh pemerintah untuk menentukan operator mana saja yang berhak memperoleh selembar kertas lisensi dari sebuah blok pita frekuensi bernama 3G. Akhirnya terpilihlah tiga operator pemegang lisensi 3G, yaitu Telkomsel dengan penawaran Rp 218 miliar, XL Rp 188 miliar dan terakhir Indosat dengan mengeluarkan kocek sebesar Rp 160 miliar. Jumlah tersebut hanyalah biaya untuk kepentingan memenangkan tender, belum jumlah lebih besar yang harus dikeluarkan untuk investasi pada teknologi ini. XL mengklaim telah berinvestasi sekitar USD 50-100 juta untuk layanan 3G, Telkomsel menganggarkan dana Rp 3 triliun untuk memasang 3000 Base Tranceiver Stations (BTS) dalam kurun waktu 3 tahun kedepan dan akan terus ditambah seiring kebutuhan pasar.

Investasi mahal ini adalah salah satu faktor yang membuat sebagian kalangan merasa pesimis akan masa depan 3G di Indonesia. Karena logikanya investasi yang besar selalu berakibat tingginya tarif dari layanan itu sendiri, apalagi kondisi tersebut didukung oleh tekanan untuk mengembalikan modal investasi yang dikeluarkan dalam batasan waktu. Mengapa? Karena dalam industri ini teknologi selalu berkembang begitu cepatnya, belum memulai untuk mendulang rupiah di negeri ini 3G sudah dibayang-bayangi kehadiran WIMAX atau lebih populer dengan Fourth Generations Technologhy atau 4G, teknologi Broadband Wireless Access (BWA) yang diklaim paling efektif dan efisien. WIMAX dapat melakukan transfer data dengan kecepatan hingga 70Mbps dalam radius jarak 30-50 km dari base stations dalam menyediakan akses broadband bagi pelanggan. Yang cukup membuat 3G gigit jari adalah biaya investasi WIMAX (CAPEX) hanya 1:300 (satu berbanding tigaratus) dibanding biaya investasi 3G. Investasi yang lebih murah ini otomatis akan memberikan tarif yang lebih murah pula bagi layanan WIMAX dibanding 3G nantinya.

Para pengamat memperkirakan dalam 2-3 tahun mendatang orang akan mencoba kehebatan 4G. Dan dalam kurun waktu itulah para operator harus memutar otak untuk mengembalikan investasi yang telah dikeluarkan dan tentu saja mencetak keuntungan. Jangan sampai modal investasi di 3G belum kembali, operator harus berinvestasi lagi di 4G.

Selain masalah investasi hal-hal yang menyuburkan rasa pesimistis akan masa depan 3G di Indonesia oleh berbagai kalangan diantaranya adalah mahalnya Handset yang compatible dengan layanan 3G/UMTS bagi sebagian besar masyarakat, coverage area yang masih terbatas, kurang jelasnya kompatibilitas dalam interkoneksi, dan budaya dari sebagian besar masyarakat sendiri yang sudah merasa cukup dengan layanan voice dan SMS. Sebagai ilustrasi, saat ini pengguna telepon seluler yang hanya menggunakan layanan voice dan SMS saja jumlahnya mencapai 99 %. Dengan pembagian peran kontribusi bagi pendapatan para operator seluler sekitar 70-85 % untuk voice dan 10-25 % untuk SMS, sedangkan yang memanfaatkan layanan data serta content masih berada di bawah angka 5 %.

Lalu apa yang harus dilakukan dengan kondisi pasar seperti sekarang ini? Tentu saja kreatifitas dalam memberikan variasi layanan, intensitas program-program sosialisasi dan edukasi masyarakat ditingkatkan, coverage area yang lebih luas, kualitas layanan yang memuaskan dan tarif yang terjangkau bagi target market di Indonesia yang akan menentukan kehadiran 3G membawa kesuksesan bagi operator penyelenggara atau tidak.

Berikutnya yang perlu difikirkan lebih dalam oleh para operator pemegang lisensi 3G adalah apakah manfaat lebih yang akan didapatkan oleh masyarakat maupun operator dengan digelarnya teknologi ini? Sebenarnya disamping hanya sebagai sebuah komoditi bisnis, 3G mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan dalam kegiatan-kegiatan sosial yang termasuk dalam Corporate Social Responsibility. Karena selain untuk kebutuhan personal, network 3G sebenarnya dapat juga digunakan untuk mempercepat pemerataan informasi serta akses internet sampai ke pelosok-pelosok Tanah Air karena pada dasarnya network ini dapat juga dijadikan network access ke jaringan internet. Masih banyak sekolah serta kampus perguruan tinggi yang belum memadai kualitas akses internetnya. Untuk itu operator 3G juga dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi kesenjangan digital antara sekolah dan kampus di kota-kota besar dengan yang sekolah dan kampus yang berada di daerah.
e-Learning Berbasis 3G.

Salah satu konsep yang ditawarkan dalam pemanfaatan 3G bagi kegiatan sosial adalah pengembangan sistim pendidikan berbasis elektronika yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar secara interaktif tanpa batasan geografis dengan menggunakan sebuah portal yang berisi berbagai referensi ilmu pengetahuan atau lebih dikenal dengan istilah e-Learning. Sistem belajar mengajar ini tidak hanya berkaitan dengan institusi pendidikan namun juga dapat dimanfaatkan oleh kalangan industri

Beberapa perusahaan besar yang ada di Amerika seperti Cisco System, Hewlet Packard, IBM, Oracle memanfaatkan sistem ini sebagai sarana promosi yang sangat efektif dan murah disamping usaha untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia yang menguasai produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Tidak hanya Amerika yang menerapkan sistem ini, beberapa negara Eropa seperti Swedia pun telah cukup berhasil dengan sistem e-Learning ini.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia, apa yang dapat diperoleh masyarakat saat ini dari ketersediaan teknologi, infrastruktur dan dana yang dimiliki oleh para pelaku industri telekomunikasi. Seperti diungkapkan diatas bahwa pada dasarnya network 3G dapat juga dijadikan network access ke jaringan internet yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Penerapan teknologi internet di bidang pendidikan dan pelatihan sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan di Indonesia yang wilayahnya tersebar dan terpisah secara geografis. Sehingga diperlukan solusi yang tepat dan cepat dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan mutu pendidikan sekarang. Dengan adanya aplikasi pendidikan jarak jauh yang berbasiskan internet, maka ketergantungan akan jarak dan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pendidikan dan latihan akan dapat diatasi, karena semua yang diperlukan akan dapat disediakan secara online sehingga dapat diakses kapan saja. Begitupun manfaat yang akan dirasakan oleh dunia industri, terutama perusahaan-perusahaan besar dimana cabang-cabang perusahaan banyak tersebar di dalam dan luar negeri. Dengan menerapkan e-Learning perusahaan dapat menghemat biaya akomodasi bagi karyawan peserta training dan pelatihan, karena dapat dilaksanakan dari mana saja dan kapan saja secara interaktif dan real time.

Media Internet

WWW (World Wide Web) merupakan salah satu tekonologi berbasis HTTP (HyperText Tranfer Protocol) yang telah berkembang sejak lama dan yang paling umum dipakai dalam pelaksanaan pendidikan dan latihan jarak jauh (e-Learning). Teknologi ini memungkinkan dibuatnya sebuah website yang berfungsi sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar dan warehouse dari semua bahan-bahan pembelajaran. Secara umum aplikasi di internet terbagi menjadi 2 macam, yaitu :

  • Synchronous System : Aplikasi yang berjalan secara waktu nyata dimana seluruh pemakai bisa berkomunikasi pada waktu yang sama, contohnya: chatting, Video Conference, dsb.
  • Asynchronous System : Aplikasi yang tidak bergantung pada waktu dimana seluruh pemakai bisa mengakses ke sistem dan melakukan komunikasi antar mereka disesuaikan dengan waktunya masing-masing, contohnya: BBS, e-mail, dsb.

Untuk mencapai efektifitas maximal sistem pendukung e-Learning berbasi web dengan akses internet menggunakan 3G, idealnya dilakukan penggabungan antara sistem synchronous atau asynchronous, karena pada dasarnya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Dengan hadirnya 3G sebagai sebuah teknologi berkemampuan transer data dalam kecepatan tinggi akan sangat memungkinkan penerapan teknologi real time multimedia seperti video conference, video phone untuk kepentingan proses belajar-mengajar melalui e-Learning.

Nilai tambah lain dalam realisasi e-Leraning berbasis 3G adalah keleluasaan bergerak bagi para siswa maupun karyawan dalam men-download content dari Internet secara cepat, kapan saja dan dimana saja. Hal itu semakin dipermudah dengan tersedianya handset yang dilengkapi dengan fasilitas aplikasi mobile office dipasaran.

Pada akhirnya manfaat besar yang diharapkan dapat diperoleh adalah pemerataan informasi bagi segenap elemen bangsa dengan tersedianya infrastruktur yang memadai, sehingga program pencerdasan bangsa akan lebih cepat terealisasi. Tentu saja jika para pemegang dan pemilik sumber daya potensial seperti operator telekomunikasi misalnya mau mengulurkan tangan dan membantu bangsa ini menuju ke kondisi yang lebih maju. Seperti di ceritakan diatas, langkah yang diambil oleh Mobile-8 sebagai operator CDMA baru, misalnya, walaupun lisensinya bukan 3G, mungkin patut mendapat perhatian. Karena perusahaan ini secara aktif menjawab kebutuhan yang diharapkan oleh masyarakat. Langkah ini juga sudah sepatutnya diikuti oleh operator lain yang memang memiliki sumber daya potensial dalam wujud pengabdianya kepada masyarakat melalui Corporate Social Responsibility.

Pelaksanaan CSR akan sangat menguntungkan untuk dilakukan oleh peusahaan-perusahaan besar karena selalu membawa dua kebaikan, terjadinya simbiosis mutualisme yang saling memberi insentif bagi kedua belah pihak. Insentif bagi masyarakat, tentu saja dampak positif dari CSR pada segala bidang, sedangkan bagi perusahaan sendiri kredibilitas dan kepercayaan masyarakat akan semakin besar dan bukan tidak mungkin akan berpengarus positif bagi kemajuan perusahaan. Selain itu menurut David Vogel dalam buku karanganya yang berjudul The Market for Virtue, The Potentials ans Limits of Corporate Social Responsibility mengatakan bahwa bagi perusahaan transnasional CSR sangat mengungtungkan untuk menjaga image dan kredibilitas dari serangan kampanye-kampanye negatif para aktivis.

Mengambil langkah-langkah strategis, jelas, berani dan bermanfaat langsung bagi masyarakat pada awal pengenalan layanan ini hendaknya menjadi pertimbangan utama oleh operator penyedia layanan 3G. Jika tidak, layanan 3G hanya akan menjadi fitur yang tidak termanfaatkan dan hanya menjadi bahan diskusi para pakar serta praktisi telekomunikasi tanpa jelas wujud dan bentuknya di tengah-tengah masyarakat. Tanpa kreatifitas dan inovasi tinggi, operator pemegang lisensi tidak akan mampu berharap banyak dari keberhasilan 3G. dan bukan tidak mungkin karena tarif yang terlalu mahal ditambah dengan coverage area terbatas dan kualitas yang kurang memuaskan, masyarakat akan bersabar menunggu kehadiran 4G yang sebentar lagi akan diperlihatkan kemampuanya oleh Samsung dalam ajang Samsung 4G forum di pulau Jeju Korea.